Dra. KristiPraktisi Terapi Autis
Mengenal anak dengan
Autistic Spectrum Disorder
- Autisme merupakan fenomena yang masih menyimpan banyak rahasia walaupun sudah diteliti sejak 60 tahun yang lalu.
- Belum dapat ditemukan penyebab yang pasti sehingga belum dapat dikembangkan cara pencegahan maupun penanganan yang tepat.
- Autisme bukanlah fenomena yang sederhana fakta menunjukkan masalah autisme merupakan masalah yang kompleks dan beragam sehingga individu autisme perlu didekati dengan pendekatan humanistik yang memandang mereka sebagai individu yang utuh dan unik.
- Jumlah penyandang autisme dari hari ke hari makin bertambah,juga terjadi di Indonesia dan telah menjadi perhatian luas dari masyarakat maupun profesional.
AUTISME SEBGAI GEJALA PSKOLOGIS
- Pandangan Psikoanalitik : Bahwa Autisme disebabkan karena pengasuhan ibu yang tidak hangat,sehingga anak autistik cenderung menarik diri dan sibuk dengan dirinya sendiri (Happe,1994;Butten,2004;Stacey 2003). Tokoh lain yang meneliti adalah Margareth Mahler. Menurutnya anak-anak Autistik mengalami kerusakan yang parah pada egonya karena sejak lahirtidak mampu dan tidak menjadikan ibu atau orang lain sebagai partner dalam melakukan eksplorasi terhadap dunia luar dan dunia dalamnya. Mereka juga mengalami regresi kearah tahap kehidupan yang paling primitif serta menutup diri dari kehidupan yang menuntut respon-respon emosonal dan sosial.
- PANDANGAN KOGNTIF : Theory of Mind (ToM) Yang dikembangkan oleh Simon Baron-Cohen,Alan Leslie dan Uta Frith (Yordan,1999, Frith,2003) merupakan salah satu teori Psikologi tentang Autism yang bertahan sampai saat ini. Berdasarkan pengamatan pada anak-anak Autistik ini mereka berpendapat bahwa tiga kelompok gangguan prilaku yang tampak pada mereka ( interaksi sosial,komunikasi dan imajinasi) disebabkan oleh kerusakan pada kemampuan dasar pada manusia untuk “membaca pikiran”.
Pada usia empat tahun umumnya anak sudah memiliki kemampuan mengerti bahwa semua orang memiliki perasaan dan pikiran yang akan mengarahkan tingkah laku .
- Anak Autistik memiliki kesulitan untuk mengetahui pikiran dan perasaan orang lain sehingga mereka tidak mampu memprediksi tingkah laku orang tersebut. Kondisi ini disebut “mentalizing” (Frith,2003)
- PANDANGAN NUROLOGIS : Teori yang lebih berorientasi pada masalah neurologis yaitu teori tentang masalah autistik disebabkan oleh kegagalan dalam melaksanakan tugas atau masalah dalam melakukan fungsi eksekutif.
- Fungsi eksekutif antara lain adalah kemampuan untuk melakukan sejumlah tugas secara bersamaan,berpindah-pindah focus perhatian ,membuat keputusan tingkat tinggi ,membuat perencanaan masa depan dan menghambat respon yang tidak tepat.
- Autisme sebagai gejala Neurologis
- Seiring dengan perkembangan dunia kedokteran dengan peralatan yang lebih canggih merubah arah penelitian tentang autisme,mengarah ke penyebab neurologis.
- Tiga lokasi yang diduga sebagai penyebab utama : Sirkuit batang otak-cerebelum,sistem limbik dan sirkuit korteks serebri.
- Para peneliti berpendapat bahwa pada saat lahir,bayi autistik memiliki otak mormal. Namun pada perkembangannya setelah mencapai usia dua atau tiga tahun, ukuran otak mereka membesar melebihi normal ,terutama pada lobus frontalis dan otak kecil,yang disebabkan oleh pertumbuhan white matter dan grey matter yang berlebihan. Sementata sel saraf yang ada lebih sedikit dibandingkan pada otak normal dan kekuatannya juga lebih lemah.
- Kondisi inilah yang tampaknya berkaitan dengan gangguan pada perkembangan kognitif,bahasa, emosi dan interaksi sosial.
AUTISME SEBAGAI SINDROME
- Menurut DSM-III-R (Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder ,edisi revisi ke tiga ) merupakan sumbangan dari survei epidemiologis yang dilakukan oleh Lorna Wing dan Judith Gould di daerah Camberwell,London tahun 1970 (Happe,1994),
- Tujuan survei ini untuk menemukan ciri-ciri autisme yang selalu hadir secara bersamaan dan bukan hanya merupakan kebetulan.
- Wing memperkenalkan istilah “Spektrum autistik” dengan triad impairment yaitu sosialisasi,komunikasi dan imajinasi (Frith,2003; Sack,1995)
KRITERIA MENURUT DSM- IV - R
- 1. Gangguan Kualitatif dalam interaksi soaial
timbal balik :
- a. gangguan yang nyata dalam berbagai tingkah laku non verbal
seperti kontak mata ,ekspresi wajah dan posisi tubuh.
b. kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman
sebaya sesuai dengan tingkat perkembangan.
c. kurangnya spontanitas dalam berbagi kesenangan ,minat atau
prestasi dengan orang lain dan
d. kurang mampu melakukan hubungan sosial atau emosional
timbal balik.
- 2. Gangguan kualitatif dalam komunikasi :
- a. keterlambatan perkembangan bahasa atau tidak bicara sama
sekali.
b. pada individu yang berbicara tidak mampu mempertahankan
percakapan dengan orang lain.
c. penggunaan bahasa yang stereotip ,repetitif atau sulit
dimengerti dan
d. kurangnya kemampuan bermain pura-pura.
- 3. Pola-pola repetitif dan stereotip yang kaku
pada tingkah laku,minat dan aktivitas:
a. preokupasi pada satu pola minat atau lebih
b. infleksibilitas pada rutinitas atau ritual yang spesifik dan non
fungsional.
c. gerakan motor yang stereotip
d. preokupasi yang menetap pada bagian -bagian obyek.
Seorang anak dapat didiaknosis memiliki gangguan autis bila simtom-
simtom diatas telah tampak sebelum anak mencapai usia 3 tahun.
AUTISM SEBAGAI SEJALA SENSORIK
- Gangguan sensory processing atau gangguan pengolahan sensorik pada anak autistik muncul dalam tingkah laku hiperaktif, bermasalah dalam melakukan gerakan,memiliki tonus otot yang lemah dan sulit konsentrasi.
- Masalah dalam memproses input sensorik juga menyebabkan anak ASD tidak mampu menyaring input-input yang tidak relevan sehingga seringkali gagal dalam mengolah informasi penting dan cenderung mudah stres dan cemas.
- Gangguan pengolahan sensory ini oleh Jean Ayres dikembangkan teori SI (Sensory Integration) yang mendasarkan pada pemahaman bahwa sensasi dari lingkungan dicatat dan di interpretasikan di otak atau susunan saraf pusat.
- Sensasi ini kemudian mempengaruhi gerakan atau respon motorik yang selanjutnya merupakan umpan balik bagi otak.
Ada tiga sistem yang dianggap paling penting dalam pengembangan
ketrampilan
- Vestibular - keseimbangan
- Propeoseptif - gerak (mendorong,mengankat
memutar,membanting dsb)
- Taktil - peraba
- Disamping itu ada pula sistem
visual (penglihatan), auditori( pendengaran) ,olfaktori (pembau) dan
gustarori ( pengecap)
- Proses SI terjadi secara otomatis dan tidak di sadari.
- Pada individu dengan integrasi sensorik yang baik,otak memiliki kemampuan untuk mengorganisasi dan memproses input sensorik serta menggunakan input tersebut untuk berespon secara tepat pada situasi khusus.
- Sebaliknya pada individu dengan disfungsi sensorik terjadi gangguan pada pencatatan dan interpretasi sensorik sehingga mengakibatkan masalah pada proses belajar,perkembangan,atau tingkah laku (Kranowitz,2005)
KESIMPULAN :
- Berdasarkan empat sudut pandang memahami Autisme tersebut dapat disimpulkan bahwa Autisme merupakan kondisi yang abnornal. Dari segi Psikologis autisme merupakan gangguan perkembangan yang menyebabkan masalah berat pada kemampuan kognktif,berempati,menemukan hubungan dan melaksanakan tugas yang kompleks.
- Secara neurologis autisme merupakan kondisi abnormal pada otak yang amat kompleks yang sampai saat ini belum tau penyebabnya.
- Autisme ditandai tiga gangguan yaitu interaksi sosial,komunikasi dan imajinasi.
- Dari sudut SI autisme ditandai oleh problem SI yang berat dan kompleks.
- Hal ini saling kait mengkait satu dengan yang lainnya.





