Pemerintah sedang gencar-gencarnya meningkatkan pendidikan vokasi yang menekankan pada ketrampilan praktis tetapi terlatih dan terstandarisasi serta laku jual. Lebih jauh lagi adalah siap kerja dan siap diupah memadai sebagai tenaga trampil. Tidak heran sekarang ini proporsi pendidikan SMA dan SMK sudah mendekati seimbang yaitu 47%:53%.
Pendidikan vokasi sudah menjadi agenda pemerintah, bukan karena jeleknya pendidikan SMA, tetapi karena lapangan kerja ril (sektor ril), para user lulusan pendidikan meminta mereka yang siap kerja. Jadi di level yang lebih tinggi kebutuhan akan lulusan diploma politeknik akan jauh dibutuhkan oleh dunia kerja.
Nah bagaimana dengan dunia profesi Psikologi?
Idealnya, seorang sarjana yang sudah kuliah 144 sks, dengan masa pendidikan minimal 4 tahun dengan penetapan raihan kompetensi diharapkan sudah dapat langsung bekerja dalam ranah “perilaku manusia: dimana ada manusia disana pulalah sarjana psikologi mendapatkan lahan kiprahnya”. Namun fakta membuktikan bahwa:
1. Dunia kita sekarang ini menuntut spesialisasi yang tinggi, sebagai konsekuensi jaman yang dihuni 3 milyar manusia.
2. Pendidikan S1 Psikologi tidak dipersiapkan untuk langsung mampu menyelesaikan problem dengan tingkat kerumitan kompleks terutama pada domain-domain pekerjaan kepsikologian. Dapat dikatakan S1 Psikologi “diberi bekal” untuk sampai di suatu tempat, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan di tempat tujuan ketika menghadapi kompleksitas maslaah. BUkan berarti tidak akan pernah mampu, namun perlu waktu yang lebih lama, jam terbang panjang, dan boleh jadi efektivitas problem solvingnya belum terbangun. Oleh karena itu program profesi dirancang untuk mempercepat, menstimulasi, memfasilitasi proses belajar dan skill serta sikap kerja yang siap untuk menghadapi kondisi tersebut. Jadi tidak keliru bahwa program profesi adalah proses cepatisasi kemampuan dengan sistematika logis dan bertanggungjawab serta legal.
3. Dunia bisnis dan dunia kerja menunutut standar profesionalitas dan etika kerja yang semakin tinggi, sebab di tengah ribuan lulusan sarjana, ternyata tidak semuanya memeiliki keduanya. Apalagi pembentukan karakter menajdi penting ketika dihadapkan pada prevalensi kriminal “penyelahgunaan’ profesi yang semakin meningkat. “White colar crimes” semakin menjadikan masyarkaat berhati-hati ketika mencari ahli, rujukan. Maka program profesi dirancang untuk memiliki profesionalitas dan juga karakter yang baik.
Tags: Add new tag, karakter, kode etik, profesi, psikolog, psikologi






apakah lulusan SMK dapat dan mampu meneruskan kuliah tetapi mengambil beda jurusan dari jurusan yang diambil saat di SMK?