Pemerintah sedang gencar-gencarnya meningkatkan pendidikan vokasi yang menekankan pada ketrampilan praktis tetapi terlatih dan terstandarisasi serta laku jual. Lebih jauh lagi adalah siap kerja dan siap diupah memadai sebagai tenaga trampil. Tidak heran sekarang ini proporsi pendidikan SMA dan SMK sudah mendekati seimbang yaitu 47%:53%.
Pendidikan vokasi sudah menjadi agenda pemerintah, bukan karena jeleknya pendidikan SMA, tetapi karena lapangan kerja ril (sektor ril), para user lulusan pendidikan meminta mereka yang siap kerja. Jadi di level yang lebih tinggi kebutuhan akan lulusan diploma politeknik akan jauh dibutuhkan oleh dunia kerja.
Nah bagaimana dengan dunia profesi Psikologi?
Idealnya, seorang sarjana yang sudah kuliah 144 sks, dengan masa pendidikan minimal 4 tahun dengan penetapan raihan kompetensi diharapkan sudah dapat langsung bekerja dalam ranah “perilaku manusia: dimana ada manusia disana pulalah sarjana psikologi mendapatkan lahan kiprahnya”. Namun fakta membuktikan bahwa: